Posted in

Petani Tebu Rembang Catat Kenaikan Produktivitas, Harga Tebu Melonjak hingga Rp7.000 per Kg

Rembang, Jawa Tengah – Petani tebu di Kabupaten Rembang menyambut musim giling 2024 dengan optimisme tinggi setelah mencatat peningkatan produktivitas dan harga jual yang lebih menguntungkan. Panen tebu tahun ini diprediksi melampaui capaian tahun sebelumnya, didorong oleh program pemerintah dan kondisi pasokan bahan baku pabrik gula yang menipis.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, mengungkapkan bahwa peningkatan produktivitas ini merupakan hasil nyata dari program Kebun Benih Datar (KBD) dan bongkar ratoon yang digulirkan pada 2021-2022. “Petani tebu di Rembang telah dua kali panen sejak program ini diterapkan, dan hasilnya terus meningkat. Ini bukti bahwa intervensi teknis dan dukungan pemerintah berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” ujar Andi dalam keterangan resmi, Kamis (23/5).

Maryono, salah satu tokoh petani tebu di Rembang, menegaskan bahwa panen kali ini tidak hanya lebih melimpah, tetapi juga menghasilkan kualitas tebu yang lebih baik. “Tahun lalu, sebagian tebu masih muda saat digiling, tapi tahun ini kami panen serentak di bulan Mei, sehingga tebu lebih matang dan kualitasnya lebih unggul. Harga jualnya pun naik, berkisar Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram,” jelasnya.

Kondisi pasokan bahan baku di pabrik gula yang menipis turut mendukung penyerapan hasil panen petani. Maryono menjelaskan, momen panen besar ini bertepatan dengan kebutuhan pabrik yang tinggi, sehingga petani tidak kesulitan menjual hasil panennya. “Pabrik gula sangat membutuhkan pasokan, dan kami bisa langsung menjual tebu dengan harga yang lebih baik,” tambahnya.

Meski demikian, Maryono mewakili aspirasi petani tebu Rembang menyampaikan harapan agar pemerintah terus memberikan dukungan, baik dalam bentuk bantuan benih unggul, pupuk bersubsidi, maupun perbaikan infrastruktur. “Kami berharap program seperti KBD dan bongkar ratoon bisa dilanjutkan, bahkan diperluas. Dukungan ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produktivitas dan kesejahteraan petani,” tegasnya.

Andi Nur Alam Syah menegaskan bahwa peran petani tebu sangat krusial dalam upaya mencapai swasembada gula nasional. “Petani tebu adalah ujung tombak produksi gula dalam negeri. Kami akan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan mereka melalui langkah-langkah strategis, termasuk penyediaan benih berkualitas, akses pupuk, dan pembangunan infrastruktur pendukung,” pungkasnya.

Data sementara menunjukkan bahwa produktivitas tebu di Rembang tahun ini meningkat sekitar 10-15% dibandingkan tahun lalu. Jika tren ini berlanjut, target swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah semakin mendekati kenyataan. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga pupuk dan perubahan iklim tetap menjadi perhatian utama para petani.

Musim giling 2024 di Rembang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Juli, dengan total produksi tebu mencapai ribuan ton. Keberhasilan panen kali ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sektor perkebunan tebu di Jawa Tengah, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *